16 Februari 2013

Biar Hujan Menciummu

Hey, gadis berhati senja. 
Adakah sedikit waktu untuk duduk bersama?  Diriku akan menunjukan apa yang telah ku perbuat untukmu. Ini bukan sebuah pembuktian bukan pula sebuah asa untuk meruntuhkan hatiku dalam hangatnya sapaanmu.

Hey, gadis berhati senja.
Diriku bisa saja membasuh perihmu, dengan apa yang ku bisa agar dirimu tak melupakan bagaimana cara tersenyum. Namun, itu akan menjadi hal yang begitu bodoh dimana dirimu akan tersenyum sesaat sebelum terjatuh kembali.

Hey, gadis berhati senja. 
Diriku tidaklah membencimu, dengan membiarkanmu terus berlarut dalam senja yang yang menjemput malam. Namun Diriku hanya ingin mengajarkanmu bagaimana cara berdiri, tidak untuk sesaat namun untuk selamanya.

Hey, gadis berhati senja. 
Percayalah, ketika dirimu bisa melewatkan hal tersebut sayap-sayap patahmu akan terurai menjadi sebuah kupu-kupu yang menutup hari-hari senjamu, hancurnya hatimu tidak akan seberapa beratnya ketika dirimu telah lalui hal tersebut dengan rasa lapang.

Hey, gadis berhati senja. 
Mungkin, diriku bukanlah siapa-siapa. Diriku sadar, ini adalah cara yang salah karena mengajarkan sesuatu tanpa mendampingimu. Namun, inilah caraku untuk menjadi bijaksana tanpa harus peduli dengan makna kebijaksaan itu sendiri.

Hey gadis, berhati senja. 
Berhati-hatilah, dengan serigala. Ketahuilah, wajahmu mempunyai garis-garis pelangi yang membuat semua orang takjub namun dirimu tidaklah cukup lihai untuk membawanya.

Hey, gadis berhati senja. 
Maafkan diriku tak membasuh perihmu dan membiarkan hujan menciummu.


Langit  hari ini runtuh, menyisakan air hujan pada tangkai, mengejar senja pada sore hari dengan kereta yang tak pernah kembali

---------------------------------------------------------------
Didedikasikan untuk Wanita Berhati Senja
16-02-2013 
Ditulis di sepertiga malam terakhir 

0 komentar:

Posting Komentar