10 Oktober 2016

IBU


Kau mengajari aku
Mengucapkan kata-kata baru
Kau menghendaki aku
Mengucapkan kata-kata bagus

Kau adalah yang tidak 
Membunuhku selagi masih bayi
Kau adalah yang tidak 
Mengutukku hingga menjadi batu

Kau sebut nama aku
Pada tiap ucap doamu
Kau jauh lebih tinggi
Daripada aneka macam sorga

Kau tanyakan kabarku
Disaat aku tinggal jauh
Kau adalah yang lunglai
Disaat aku marah pergi

Kau adalah yang malu
Disaat aku berbuat memalukan

Kau adalah yang bimbang

Tanya dengan siapa aku pergi

Kau jauh lebih harum
Dari apapun yang paling mengharumkan
Kau adalah yang bilang
jangan kecewa sabar sayang

Kau adalah dirimu
Dengan kekar kupanggil kau Ibu
Ketika engkau tersenyum kepadaku
Cinta tak perlu lagi kucari darimu

Bait demi bait diatas merupakan lirik dari sebuah lagu yang berjudul "IBU". Diciptakan oleh seorang yang mengaku imigran dari sorga yg diselundupkan oleh ayahnya di kamar pengantin yang tegang. Pidi Baiq. Lagu ini ditulis untuk seluruh Ibu-Ibu di dunia. Dan bait-bait lagu ini sengaja saya posting kembali di blog dalam rangka kekaguman saya akan sosok Ibu.

Dan untuk calon Ibu dari calon anak-anakku nanti, bersabarlah.... kita sedang menikmati prosesnya

Jakarta, 
Ba'da Magrib
10 Oktober 2016
21 derajatCelcius

7 Juli 2014

Kemana Engkau Indonesiaku??

TELAH lebih dari 60 tahun usia proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, dari waktu ke waktu, bangsa ini sepertinya selalu mencoba memungkiri dirinya sendiri. Tragedi demi tragedi telah dilalui. Namun berkali pula kita mencoba mengingkari apa yang telah dilakukan sebelumnya. Kita mulai dari nol dan nol lagi. Tujuan kita berbangsa pun semakin kabur. Setelah 1965, kita mengubur segala yang dicapai masa sebelumnya. Demikian pula setelah 1998.

Bukan hanya itu. Pasca 1998, kita bahkan kembali jauh ke masa-masa sebelum 1928. Ke masa-masa ketika spirit kesukuan dan kedaerahan masih menjadi selimut relasi antar anak-anak bangsa. Sehingga yang dirasakan masyarakat kebanyakan, reformasi, demokrasi, dan otonomi bukanlah sebuah fajar harapan baru, tetapi justru musibah dan keterancaman. Apalagi, deretan musibah memang secara menerus dipertontonkan. Luka, duka dan kematian juga keputusasaan sepertinya tak juga hendak menepi dari kehidupan.

12 Agustus 2013

Jika benar nanti kita bertemu lagi












Detik masih menyusuri hari dan dirimupun belum berlalu
Tapi kali ini aku mulai tenang mendengarkan dirimu jauh dilubuk hati
Tetap berdoa untuk dirimu diantara dua sujud
Selalu menginginkan yang terbaik untuk dirimu 

Memang masih sekilas bayangan kita berkelebat
Tapi sudah tidak terlalu menyakitkan seperti awal
Mungkin pedihnya sudah terlena oleh angin dan waktu
Mungkin juga sudah mulai tenang dan tidak beriak seperti ombak

Sebaiknya diriku tenang-tenang saja
Menjalani jalinan hari yang terhampar didepan mata
Tetap dengan harapan yang sama
Jika benar nanti kita bertemu lagi

Jika benar nanti kita bertemu lagi !


Amsardam, 10 Agustus 2013
sepertiga malam terakhir

21 Juli 2013

Nyamuk




> Aku ingin terus mencintaimu seperti nyamuk yang mencari mangsa <

> Di mana setiap gerakan menjadi penentu hidup dan mati oleh tepukan tangan manusia <
 
> Di mana setiap manuver menjadi begitu berbahaya untuk menghindari semprotan racun serangga <

> Di mana setiap kepakan sayap dapat menjadi sebuah gerak terakhir <

> Dan setiap tegukan darah menjadi manis yang getir <
 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Karena mencintaimu, sama berbahayanya seperti mengudara kembali…
Tanpa si manusia menyadari…


5 Juni 2013

Ingin Sekali


 










Ingin sekali menerima kamu pecah di dadaku
Tanpa perhitungan sama sekali
Ingin sekali menikmati kamu mengecap aku dalam mulutmu
Tanpa simbah peluh sama sekali

Ingin sekali mengangkat tubuhmu penuh dalam alunan lenguhan
Tanpa iba sama sekali
Ingin sekali menari diantara kedua matamu
Tanpa jeda sama sekali

3 April 2013

Bertahan



Senyummu begitu getir
Ujung mataku menangkap itu

Mata kita begitu galau
Hatiku merasa kita berdua seolah retak

Tapi aku tidak percaya pada pecahan kaca
Aku menyandarkan keyakinanku pada hatimu

Mulutku bergumam tidak menentu
Lidahmu telah menyusun banyak kata namun tak terucapkan
Hanya untaian air mata yang bicara

Kita seperti si tuli dan si bisu
Tapi sayangnya hati kita telah bertaut

16 Februari 2013

Biar Hujan Menciummu

Hey, gadis berhati senja. 
Adakah sedikit waktu untuk duduk bersama?  Diriku akan menunjukan apa yang telah ku perbuat untukmu. Ini bukan sebuah pembuktian bukan pula sebuah asa untuk meruntuhkan hatiku dalam hangatnya sapaanmu.

Hey, gadis berhati senja.
Diriku bisa saja membasuh perihmu, dengan apa yang ku bisa agar dirimu tak melupakan bagaimana cara tersenyum. Namun, itu akan menjadi hal yang begitu bodoh dimana dirimu akan tersenyum sesaat sebelum terjatuh kembali.