3 April 2013

Bertahan



Senyummu begitu getir
Ujung mataku menangkap itu

Mata kita begitu galau
Hatiku merasa kita berdua seolah retak

Tapi aku tidak percaya pada pecahan kaca
Aku menyandarkan keyakinanku pada hatimu

Mulutku bergumam tidak menentu
Lidahmu telah menyusun banyak kata namun tak terucapkan
Hanya untaian air mata yang bicara

Kita seperti si tuli dan si bisu
Tapi sayangnya hati kita telah bertaut



Cerita kita belum bisa menjadi ikhtisar
Karena dia masih menjadi sebuah konsep kasar
Dua ego yang sedang meraba dalam dua iklim

Takut?
Tentu saja diriku takut
Takut akan kehilangan dirimu
Takut akan kehilangan senyummu yang selalu menghiasi jendela pagi ku
Takut akan kehilangan suara manismu yang selalu menghantarkan keceriaan di kala malam ku

Masih teringat oleh kata-katamu
Dikala kau berucap sebuah kisah percintaan tanpa masalah bagai sayur tanpa garam
Itu yang kau inginkan, dan do’a mu terkabul Tuhan

Bertahan
Kuharap kita bisa bertahan
Bertahan menerima hadiah dari Tuhan
Masalah bisa merubah manusia,
Tapi manusia tidak bisa merubah masalah

Mungkin diam adalah benar
Untuk sementara sebaiknya kita hening
Meredam dendam dan amarah

Maaf
Maafkan diriku yang terlalu menuntutmu untuk sempurna
Diriku sadar, diriku menyesal

Atas nama air mata dan rasa
Aku sungguh menginginkan kita jadi Satu
Hingga tak ada lagi kata Aku dan Kamu
Tetapi hanya ada Kita

Semoga itu tidak membuat rasa kita seolah-olah menjadi pudar
Terlalu dini
Terlalu singkat
Untuk menyatakan bahwa perpisahan adalah yang terbenar

Jakarta, 04 April 2013
Pukul 02.10 WIB
Disudut hati yang sedang terpojok, ditemani kopi yang menyangga gundah

0 komentar:

Posting Komentar