7 Juli 2014
![]() |
Bukan hanya itu. Pasca 1998, kita bahkan kembali jauh ke masa-masa sebelum 1928. Ke masa-masa ketika spirit kesukuan dan kedaerahan masih menjadi selimut relasi antar anak-anak bangsa. Sehingga yang dirasakan masyarakat kebanyakan, reformasi, demokrasi, dan otonomi bukanlah sebuah fajar harapan baru, tetapi justru musibah dan keterancaman. Apalagi, deretan musibah memang secara menerus dipertontonkan. Luka, duka dan kematian juga keputusasaan sepertinya tak juga hendak menepi dari kehidupan.
Malangnya, antar sesama anak bangsa seperti terus bernafsu dan berlomba untuk mencari menangnya sendiri. Ini demokrasi. Ini otonomi. Ini hak azasi. Ini konstitusi dan seterusnya dan sebagainya. Kita abai. Kita kupa pada kesejatian kita sebagai manusia. Kita juga abai atau mungkin memang lupa pada ke-Indonesia-an kita.
Semua itu mendorong kita pada pertanyaan-pertanyaan besar. Adakah demokrasi, otonomi, liberalisasi, hak azasi, kebebasan ini dan itu yang dengan habis-habisan kita pertaruhkan belakangan ini memang benar-benar kebutuhan kita hari ini atau semua itu didesainkan orang lain agar kita terus ribut dan mau menang sendiri, serta tanpa sadar, satu per satu milik bangsa ini digerogoti dan dipreteli oleh bangsa lain?
Permenungan yang diawali dari pergulatan praktis ini memang bukan sebuah terapi. Tetapi sebuah ajakan, untuk runduk pada Tuhan Pencipta dan Penguasa Alam Semesta yng dari-Nya kita belajar cinta untuk sesama juga terhadap alam semesta. Bukan untuk minteri. Bukan untuk men-sub-ordinasi.. Tetapi untuk berbagi dan saling memberi.
hadi prasetio
06 Juni 2006
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar