15 Juli 2012

Menikmati Ketidaknormalan Dalam Dunia Yang Normal

Pernah terpikir,  “Apakah dunia ini baik-baik saja, dan hanya saya yang terlalu berlebihan menanggapinya”. Dulu saya memang seperti itu. Seperti anda yang sekarang sedang duduk membaca kertas paragraf tak penting ini atau bahkan seperti orang yang anda lihat sedang berjalan dengan kesibukannya tersendiri.

Rute kehidupan yang terlalu monoton membuat saya muak. Saya lebih memilih untuk mengeluarkan diri dari barisan dan bertindak sesuka hati dan jelas tindakan saya tidak mungkin merugikan orang lain. Jalan terjal, tempat tidur berduri, jurang curam, dan segala hal yang menurut kalian ‘horor’ saya sebut suatu keasyikan tersendiri. Saya sudah bosan dengan mall-mall yang terus mengikis habis lahan pertanian serta paru-paru kota, muak dengan sepeda warna-warni pasca tren kawat gigi warna-warni, muak dengan keripik pedas berlevel dan eskrim yang sama namanya dengan salah satu produk Dji Sam Soe.


Apakah ini suatu kebodohan? Benar, ini adalah tindakan yang bodoh dan saya amat sangat bangga menjadi orang bodoh seperti ini karena saya tidak akan pernah membodohi orang lain dan tidak akan pernah bisa dibodohi oleh orang lain. Menikmati segala macam ketidaknormalan dalam dunia yang notabene nya normal. Persetan dengan normal jika kenormalan tersebut harus memenuhi standarisasi tertentu?

Kalian berjalan di perempatan lalu menemukan pengemis yang kelaparan, apakah itu sesuatu yang normal? Kalian pergi ke gedung bertingkat dengan tangga berjalan, lalu duduk di sofa dan bercengkrama dengan teman sebaya kalian sambil menikmati kopi dan donat yang harganya tidak masuk akal apakah itu normal? Kalian bersenggama dengan kekasih kalian dan kalian mencoba menutupi aib kalian, apakah itu normal? Atau bahkan kalian menganggap tulisan ini sesuatu yang gila, berlebihan, hiperbola, dan apakah itu normal? Silahkan jawab sendiri kawan.

Oh ya, saya sangat ingin membawa pergi pengemis itu ke depan Gedung Sate. Saya ingin berkata “Anda Bodoh!” bagi mereka yang sedang keluar masuk mall. Saya sangat ingin mereka mereka yang sedang bersenggama dan meng-upload videonya ke situs-situs porno yang belum diblokir oleh Tifatul Sembiring. Dan saya akan bertanya kepada mereka apakah ini normal?

Inilah alasan kenapa saya menikmati suatu ketidaknormalan dalam dunia yang normal. Ketidaknormalan bukan merupakan negasi dari normal, ketidaknormalan adalah ketika kita sadar bahwa hal yang normal justru melenceng jauh dari perspektif awal. Saya lebih memilih untuk mengasingkan diri dari hiruk-pikuk anak muda yang terlalu kekinian serta kontra-produktif. Saya lebih memilih mentertawakan mahasiswa-mahasiwa sok revolusioner dengan demonstrasi yang tipikal. Pergi saja lah kalian dengan ambang normal kalian sendiri. Mungkin saya ini gila, tapi kalian menyedihkan.

Jakarta, H+4 Setelah Pilkada DKI

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Artikel Hebat :)

Posting Komentar